Penyebab wabah Virus Rubella


             Rubella (Campak Jerman) - Gejala, Penyebab, dan Pengobatan | Halodoc


Di Indonesia, kasus campak juga masih tinggi. Dilansir dari CDC, selama Juni-November 2022, Indonesia berada di peringkat ke-7 dalam negara teratas dengan wabah campak global. Bahkan lonjakan kasus campak di Indonesia selama 2022 naik sebesar 32 kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Kementerian Kesehatan mencatat terdapat 12 provinsi yang menetapkan campak sebagai KLB. Berikut beberapa alasan wabah virus rubella ini bisa kembali terjadi;

1. Menurunnya Vaksinasi Akibat Pandemi

Pandemi COVID-19 memiliki peran besar dalam kembalinya wabah kasus campak. Pasalnya, pandemi yang terjadi selama hampir tiga tahun terakhir ini menyebabkan vaksinasi campak menurun dan tidak merata. Masalah pada program vaksinasi ini mengakibatkan pencegahan campak menjadi tidak optimal. Selain itu, kesulitan ekonomi efek dari pandemi juga cukup nyata terjadi dan membuat beberapa anak mengalami kekurangan gizi. Hal ini menyebabkan sistem imun anak tidak bisa bekerja secara optimal untuk melawan penyakit tersebut.

2. Meningkatnya Kaum Anti-Vaksin

Penyebab kembalinya wabah campak berikutnya juga disebabkan oleh fenomena anti-vaksin. Anti-vaksin sendiri merupakan suatu pemikiran yang menganggap bahwa vaksin tidak memberikan manfaat pada kesehatan bahkan menaruh kecurigaan yang negatif. Fenomena ini membuat WHO memasukkannya sebagai satu dari sepuluh ancaman kesehatan di dunia pada tahun 2019. Pemikiran tersebut membuat beberapa orang tua enggan memberikan vaksinasi kepada anaknya. Padahal, campak hanya bisa dicegah melalui vaksinasi. Akibatnya, campak bisa dengan mudah menular kepada anak yang belum mendapatkan vaksin. Vaksinasi campak terbukti berhasil mencegah terjadinya infeksi dan kematian akibat campak setiap tahunnya. Melalui vaksinasi tersebut, angka penyebaran dan kasus campak di seluruh dunia dapat menurun.


             Penyakit Rubella - Gejala, Penyebab, Pengobatan - Kompas.com


Comments